Tentang Bahasa

In the first episode of “Clearing Out Old Drafts” aka “Too Lazy to Write New Content”, here’s a post I drafted on the 6th of January, 2014.

~

Buka blogger. Ngecek traffic sources. Salah satunya dari shortminded. Buka shortminded. Inget yang lalu-lalu. Lalala…

Eheung. Nggak, kok, nggak lagi galau(-galau amat), cuman lagi nostalgia aja. Dulu ngeblog pake Bahasa Inggwis. Terus ganti ke Bahasa Indonesia biar bisa ngomong yang gaul-gaul. Terus bikin blog baru karena bosen sama judul blog. (Masih sama kok, masih suka ninggalin, bukannya dibetulin. Keren.)

Bukannya nggak suka ngeblog pakai Bahasa Indonesia. Suka banget nyampurin bahasa informal dan formal seenaknya. Mungkin salah satu enaknya ngeblog pake Bahasa Inggris enaknya hanya karena jadi lebih fleksibel. Blognya bisa dimengerti lebih banyak orang (ya walaupun siapa juga yang baca blog ini). Selain itu, ada juga enaknya di proses penulisan, misalnya perbendaharaan kata. Entah kenapa, hal-hal yang terlalu hmmMMm untuk diungkapkan dengan Bahasa Indonesia, menjadi “oke” untuk dibaca khalayak ramai karena pakai Bahasa Inggris. Gak cheesy-cheesy amat. Gak galau-galau amat.

Faktor lainnya adalah, sejak 3 tahun kebelakang gue mulai banyak mikir pake Bahasa Inggris (karena agak susah ya kalo mikir pake Bahasa Indonesia lalu diterjemahkan pas ngomong, bisa jadi kesandung mulu). Kadang, kalau akar dari suatu pemikiran dimulai dengan satu bahasa, rasanya lebih gampang dituangkan ke dalam kata-kata dengan bahasa yang sama. Sama halnya dengan tulisan ini, sekarang. Karena barusan habis baca blog jadul yang kebanyakan berbahasa Indonesia – mau tiba-tiba ngetik Bahasa Inggris bakal susah rasanya.

Masih tentang perbahasaan, hari ini agak berbeda dari hari-hari lainnya. Gue pergi ke ulang tahun pertamanya keponakan gue. Namanya Dahnee. Disana, gue ketemu saudara-saudara gue yang orang Belanda. Ada satu sepupu, namanya Cliff. Setiap ketemu ini orang, kurang lebih mulai dari setahun atau dua tahun yang lalu, dia berhenti ngomong Inggris ke gue, dan cuma ngomong Bahasa Belanda. Kenapa? Alasan dia sih, karena gue sebenernya ngerti kalau dia ngomong pake Bahasa Belanda. Nggak salah juga sih, tapi gue masih ngotot bales pake Bahasa Inggris. Kenapa? Alasan gue sih, karena gue masih nggak pede ngomong Bahasa Belanda.

Sayang, ya. Gue juga orangnya lumayan bodo amat, nggak ada usaha. Alesannya: “Kalo belajar bahasa tuh enaknya gak kepaksa..! Plus, gue gak suka Bahasa Belanda juga.” Tapi kan rada bego yah, 4 tahun di Belanda tapi nggak bisa Bahasa Belanda. Coba usaha dikit, dapet sertifikat dikit, gak cuman bisanya hallo een hazelnoot latte astublieft dankjewel doangan.

Tapi jangan salah, bukan berarti dalam segi perbahasaan gue gak berkembang selama gue di Belanda. Dengan sekolah pake Bahasa Inggris (dan bener-bener cuman Bahasa Inggris karena gue satu-satunya orang Indonesia di kelas gue), mau nggak mau lo terbiasa untuk ngomong dan denger Bahasa Inggris. Ditambah lagi gue belajar Komunikasi – nggak guna kalo lo fasih berbahasa Inggris mentang-mentang bahasa rumahnya Bahasa Inggris kalo ejaan suka salah (there, their, they’re, anyone?). Orang Asia juga gak bisa jago nulis berbekal Thesaurus doang – ujian termasuk presentasi dimana kalo Bahasa Inggris lo bagus tapi kesandung aksen, poinnya berkurang banget. Ngomong-ngomong soal aksen, waktu belanja di toko baju, gue pernah ditanya sama kasir: “Where are you from?” Gue bilang, Indonesia. Doi kaget dan bilang kalo aksen gue Amerika banget. *kibas ekor*

Tapi habis itu Google Hangout sama temen-temen dari US dan aksen gue dibilang Belanda banget. Hahaha. Gagal keren.

Selain itu, gue juga (dengan nggak jelasnya) mulai belajar Bahasa Korea. “Lah, neng. Ngapain?” Iya, ngerti, gak jelas banget. Tapi gimana cara jelasinnya, kalau lo memang bagaimana caranya tertarik sama satu bahasa? Dulu juga pengen belajar Bahasa Jepang, dan pernah belajar walau terpaksa di sekolah selama 3 tahun. Hasilnya cuman watashi wa Karina desu gohan o tabemasu aja. Susah, dan waktu itu keinginannya nggak terlalu kuat, kali, ya. Setelah itu saya masuk fase suka musik dari Korea selayaknya orang Indonesia yang gampang ngikut tren. Segimana indahnya suatu lagu, menurut gue penting banget untuk ngerti apa yang dinyanyiin. Mulailah gue iseng-iseng belajar alfabetnya, yang ternyata jauh lebih gampang dibanding Jepang. Dari situ, gue merambat ke belajar yang standar-standar kayak perbendaharaan kata dan struktur kalimat. Gue juga sempet ke Seoul seminggu, dan entah kenapa merasa lebih pede asal pakai Bahasa Korea dibanding asal pakai Bahasa Belanda. Mungkin karena di Seoul gue nggak kenal siapa-siapa, jadi nggak gengsi? Mungkin.

Dari iseng-iseng belajar, sekarang gue bisa nonton film atau acara Korea tanpa subtitle, dan juga bantu-bantu translate. Masih nggak bisa ngomong freestyle kok. Intinya kemampuan berbahasa gue selain Bahasa Indonesia dan Inggris masih pasif, tapi paling nggak gue ngerti kalo ada yang ngomongin gue pake Bahasa Belanda dan Korea. #itssomething

~

Probably one of the few posts I’ve written in Indonesian on this blog. I find the content pretty amusing (especially to re-read 2 years later), so I added the last two paragraphs, and there you go. Hope you enjoyed it as I did. :)

Advertisements

Write a comment.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s