Melepas dan terus melepas.

Masinis meniup peluit untuk yang ketiga kalinya. Wanita dengan sepasang sepatu berhak, lelaki tanpa jaket, dan aku, tas di kedua bahu. Berlari mengejar pintu, berharap tidak ditutup.

Terengah-engah, aku masuk. Ramai. Manusia berkulit putih. Kuning. Coklat. Hitam. Warna-warni tapi tidak bersama. Bagaimana?

Malas bergegas ke kompartemen pertama seperti rutinitas, aku memilih untuk duduk di bangku kosong terdekat. Di sebelah seorang wanita. Satu tas kujatuhkan, satu lagi kudekap. Belum sampai satu menit, sudah menjerit bosan. Kukirim tangan kiri menggapai ke kantung jaket, menekan tombol yang terlalu kuhafal. Suara nyanyian mengisi kekosongan janggal ditengah kebingaran. Dentingan piano merasuk ke dalam telinga, menuju otak yang sedang tak henti berputar. Memikirkan tentang satu hal yang tidak ingin kupikirkan.

Aku tersadar – dan mendapati diriku menaruh pandangan ke seorang wanita dengan syal hijau lumut. Tak penting; aku butuh distraksi. Jaket hitam tergeletak diatas tas besar miliknya. Dia pindahkan jaketnya agar bisa meraih resleting tasnya, mengeluarkan baju warna kulit. lalu topi abu. Lalu baju bunga. Lalu mengembalikan semua ke dalam tasnya. Pandanganku beralih ke lantai. Sepatu hitam. Aku naikkan pandanganku, mendapati sepasang tangan yang kukenal, memegang sebuah ponsel yang juga kukenal. Tertutup kursi, namun tidak untuk rambut pirang kotor yang mencuat. Aku kenal.

Aku memandang kursi tersebut, tahu bahwa dibaliknya adalah sosok akrab yang baru saja kutemui tiga puluh menit yang lalu. Lalu? Kenapa diam?

Aku biarkan.
Sepuluh menit.
Dia menghampir.
“Aku sedari tadi disana.”

“Aku tahu.”
Andai bisa terkata.

Hanya satu senyum yang bisa kuberi, walau tidak sampai ke mata.

“Oke. Sampai besok.”

Ia menjejak keluar dari mesin besi, tangannya melambai tanpa arah. Mencelos, aku lempar pandangan sejauhnya. Birunya langit seakan menarik. Awan. Pohon. Bangunan. Rumah. Pagar. Detil-detil pemandangan yang tampak menguat, aku menerawang, mencoba mencari sesuatu dibaliknya.

Ini hanya lagu ketiga. Tapi terasa sudah lama. Mau apa, dunia terhenti barusan.

Advertisements

Write a comment.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s